Tag Archives: sajak

Aku Sudah Berusaha

Aku sudah berusaha,
keras sekali,
sekeras guntur gegap menggelegar,
di awal musim penghujan,
enam tahun lalu.

Aku sudah berusaha,
sungguh-sungguh,
seperti kesungguhan laba-laba,
menganyam jaring- jejaring rapuh,
untuk sekedar menakut-nakuti,
nyamuk-nyamuk kebingungan.

Aku sudah bersusaha,
tidak main-main,
walau harus bermain api,
dengan tangan telanjang bulat,
dan alhasil telah membuahkan,
melepuhnya jari-jemari ini.

Aku sudah berusaha,
mati-matian,
walau saat ini aku belum mati,
tetapi rasa ini telah mendahuluiku,
terbujur kaku di ruang kremasi.

Usahaku bukanlah sembarang usaha,
usaha kecil dari orang kecil,
dan mungkin tak berarti bagi kalian,
tetapi aku tidaklah malu,
karena dengan susah payah,
aku sudah berusaha.

Iklan

Andai Diamku Bisa Bicara (Versi Video)

Salam jumpa, saya coba lagi membuat versi video dari puisi lama saya yang berjudul  Andai Diamku Bisa Bicara

silakan klik di sini atau di gambar: untitled9

 

Puisi Tak Sampai (Versi Video)

Salam jumpa…

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Kesibukan kantor telah menyita sebagian besar waktu saya. Tetapi masih sempat iseng-iseng bikin video dari puisi berjudul Puisi Tak Sampai yang pernah saya tulis di blog ini.

Kalau sempat silakan diintip: untitled6

 

Kita Adalah Dedaunan

dedaunan
Kita adalah dedaunan itu,
pernah menghijau menebar rindu,
pernah kering dan berguguran,
lalu melayang bersama debu,
ditiup angin.

Kita adalah dedaunan itu,
ranting-ranting kita adalah perayaan,
dahan-dahan kita adalah keberanian,
matahari dan hujan adalah pandangan hidup,
lantas mengapa kita anggap angin sebagai keluh kesah?

Kita adalah dedaunan itu,
bersatu tanpa ikatan tali temali,
menari tanpa alunan kecapi,
tetapi kita adalah pengisi kehampaan,
itulah alasan kita punya arti bagi bumi.

Kita adalah dedaunan itu,
tak pernah berharap taman menjadi sunyi,
karena kita bukanlah bala tentara sang raja,
tak kenal busung-busungkan dada,
tak kenal pula tunduk merunduk.

Pernah kita cari kebenaran,
bertanya pada burung yang melintas,
memohon pencerahan pada malam kelam,
tetapi satupun tak pernah mendapat jawaban,
karena kita hanyalah dedaunan.

Jangan Bangunkan Aku

Jangan bangunkan aku,Image
kumohon,
mimpi ini terlalu indah untuk kutinggalkan.
Alam nyata terlalu menyesakkan untuk kupandangi
 
Jangan bangunkan aku,
dewa-dewi tengah menebarkan salam padaku,
sinar matanya seteduh mata ibuku,
sapa hangatnya selalu memanusiakan aku.
 
Jika bisa kupilih,
aku ingin terlahir kembali di sini,
bermain dengan bocah-bocah telanjang kaki,
rebah di rumput berselimut jerami.
 
Ini dunia buta dengan kasta,
tanpa raja, tanpa pula perdana menteri,
burung-burung kecilpun siap mengadili,
pada siapapun yang ingkar nurani.
 
Jangan bangunkan aku,
walau matahari telah meninggi,
karena aku selalu takut,
menjadi penghuni peradaban mati.

Menagislah Bunda

Bunda,Bunda
aku memang tak melihat,
hari di mana kau dilahirkan,
tetapi aku yakin,
hari itu pastilah hari yang indah,
langit memerah jambu,
awan berdesakan hendak turun,
mentari mengerlingkan mata,
sorepun tak ingin beranjak menjadi malam,
karena gembiranya dunia,
menyambut kehadiran wanita mulia.

Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana aku dilahirkan,
hari yang kau senyumi,
hari yang kutangisi,
hari yang tak pernah kunanti,
karena ketakutanku yang amat sangat,
tentang sebuah balas budi,
dan janji-janji bakti,
yang tak mungkin kupenuhi,
untuk mewujudkan harapanmu.

Bunda,
aku masih bisa melihat senyummu,
kurang lebih,
hampir sama seperti senyummu dulu,
ketika kau melahirkanku,
tetapi ijinkan aku bertanya,
bukankah bulan tak selamanya purnama?
dan embun pagi akan diteguk binatang melata,
akupun telah tak telanjang lagi,
karena berbaju tebal keangkuhan,
maka seyogyanya,
menangislah bunda.

Akulah Raja Alengka

Aku memaknaimu bunga yang terjaga,
oleh ksatria perkasa mempesona,
Sang Rama Wijaya.
Tapi tercelakah aku memimpikanmu?
bukan untuk menyentuh paras bidadarimu,
bukan pula memelukmu di malam syahdu.
Aku tak ingin menghitamkan cinta putihmu,
aku hanya menunggu sesaat khilafmu.

Tahukah kau bunga?
telah kupelangikan rambut ikalmu,
hingga berhelai-helai warnanya,
menyeruak dalam-dalam di sukmaku,
menghujam rimbun di hati bagai serumpun bambu.
Karena kau adalah permata berbias sinar surga,
siapa yang tak tergoda memilikinya,
walau harus kucuri bertaruh nyawa.

Jika sudi melihatku,
jangan lihat dengan mata lentikmu,
karena hanya akan kau dapati sang durjana,
raksasa penebar prahara,
tapi lihatlah aku dengan rasamu,
dan akan kau temukan Rahwana dengan cintanya,
Karena bagaimanapun juga,
akulah raja Alengka,
yang hendak membahagiakanmu dalam istana kasihku.