Tag Archives: renungan

Aku Sudah Berusaha

Aku sudah berusaha,
keras sekali,
sekeras guntur gegap menggelegar,
di awal musim penghujan,
enam tahun lalu.

Aku sudah berusaha,
sungguh-sungguh,
seperti kesungguhan laba-laba,
menganyam jaring- jejaring rapuh,
untuk sekedar menakut-nakuti,
nyamuk-nyamuk kebingungan.

Aku sudah bersusaha,
tidak main-main,
walau harus bermain api,
dengan tangan telanjang bulat,
dan alhasil telah membuahkan,
melepuhnya jari-jemari ini.

Aku sudah berusaha,
mati-matian,
walau saat ini aku belum mati,
tetapi rasa ini telah mendahuluiku,
terbujur kaku di ruang kremasi.

Usahaku bukanlah sembarang usaha,
usaha kecil dari orang kecil,
dan mungkin tak berarti bagi kalian,
tetapi aku tidaklah malu,
karena dengan susah payah,
aku sudah berusaha.

Andai Diamku Bisa Bicara (Versi Video)

Salam jumpa, saya coba lagi membuat versi video dari puisi lama saya yang berjudul  Andai Diamku Bisa Bicara

silakan klik di sini atau di gambar: untitled9

 

Puisi Tak Sampai (Versi Video)

Salam jumpa…

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Kesibukan kantor telah menyita sebagian besar waktu saya. Tetapi masih sempat iseng-iseng bikin video dari puisi berjudul Puisi Tak Sampai yang pernah saya tulis di blog ini.

Kalau sempat silakan diintip: untitled6

 

Menagislah Bunda

Bunda,Bunda
aku memang tak melihat,
hari di mana kau dilahirkan,
tetapi aku yakin,
hari itu pastilah hari yang indah,
langit memerah jambu,
awan berdesakan hendak turun,
mentari mengerlingkan mata,
sorepun tak ingin beranjak menjadi malam,
karena gembiranya dunia,
menyambut kehadiran wanita mulia.

Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana aku dilahirkan,
hari yang kau senyumi,
hari yang kutangisi,
hari yang tak pernah kunanti,
karena ketakutanku yang amat sangat,
tentang sebuah balas budi,
dan janji-janji bakti,
yang tak mungkin kupenuhi,
untuk mewujudkan harapanmu.

Bunda,
aku masih bisa melihat senyummu,
kurang lebih,
hampir sama seperti senyummu dulu,
ketika kau melahirkanku,
tetapi ijinkan aku bertanya,
bukankah bulan tak selamanya purnama?
dan embun pagi akan diteguk binatang melata,
akupun telah tak telanjang lagi,
karena berbaju tebal keangkuhan,
maka seyogyanya,
menangislah bunda.

Ingin Kusajakkan Senyummu

Ibu,
ingin kusajakkan senyummu,
seraya kupilih dan kupilah ribuan kata,
tetapi tak jua bisa kurangkai kalimat,
yang paling senonoh untukmu.

Biarlah puisi untukmu tetap kupingit di hati,
jika berkenan,
baca saja rangkaian prosa pada raut wajahku,
karena aku tak pernah memakai cadar dihadapanmu,
tangisku adalah tangisku dan tawaku adalah tawaku.

Aku mengenal kasihmu dengan sendiriku,
tanpa ada yang mengajari,
tanpa pula referensi,
dan karenamu juga aku bisa mengenal rindu,
yang kuyakini hingga riwayatku ditelan bumi.

Ibu,
aku tahu kita mencintai kesahajaan,
kita membenci kemunafikan,
maka untuk apa kututup rapat aurat tabiatku,
jika hanya untuk menyenangkanmu.

Aku Ingin Menciummu Setiap Hari

Ibu,
boleh kan aku merayu?
aku ingin berbaring di pangkuanmu,
mengadu tentang hari-hari lelahku,
tentang keras dunia,
yang tak seteduh kasihmu,
dan ingin kupertanyakan,
mengapa di luar sana,
tak pernah kutemukan keikhlasan,
seperti keikhlasanmu padaku.

Ibu,
Belailah rambutku,
pijatlah lenganku,
usaplah dahiku,
aku ingin membasahi pangkuanmu,
dengan air mataku,
dengan keringat dinginku,
dan ninabobokan aku,
bacakan kisah-kisah tentang indahnya surga,
hingga aku terlelap.

Ibu,
Ibuku sayang,
acap kali kulihat,
orang-orang hanya sempat mencium ibunya,
sekali saja,
saat jasad ibunya hendak dikebumikan,
sungguh,
aku tak ingin seperti itu,
maka ijinkan aku,
untuk menciummu setiap hari.

Aroma Hujan

Aroma hujan itu datang lagi,
memekarkan jiwaku,
asal tahu saja ,
aku begitu merindukannya,
karena dialah peradabanku,
yang mengijinkan batinku tertawa.

Sekawanan burung yang berbaris indah,
tak jua hendak mengepungku,
datanglah sahabat-sahabatku,
hitamkan aku dengan warnamu,
hilangkan silsilah yang membelengguku,
dan ajari aku melarikan diri.

Pada sebuah titik di mana aku meletih,
kukagumi daun-daun yang jatuh,
karena dia amatlah jantan,
menantang kepongahan badai,
lalu berteriak dengan lantang,
“Telah kuselaraskan kehidupan” .

Demikianlah adanya,
aroma hujan itu akhirnya pergi juga,
menyisakan kedamaian,
tetapi bukanlah berakhirnya usahaku,
untuk menjemputnya di ujung cakrawala,
pada saatnya nanti.