Tag Archives: puisi untuk ibu

Kita Adalah Dedaunan

dedaunan
Kita adalah dedaunan itu,
pernah menghijau menebar rindu,
pernah kering dan berguguran,
lalu melayang bersama debu,
ditiup angin.

Kita adalah dedaunan itu,
ranting-ranting kita adalah perayaan,
dahan-dahan kita adalah keberanian,
matahari dan hujan adalah pandangan hidup,
lantas mengapa kita anggap angin sebagai keluh kesah?

Kita adalah dedaunan itu,
bersatu tanpa ikatan tali temali,
menari tanpa alunan kecapi,
tetapi kita adalah pengisi kehampaan,
itulah alasan kita punya arti bagi bumi.

Kita adalah dedaunan itu,
tak pernah berharap taman menjadi sunyi,
karena kita bukanlah bala tentara sang raja,
tak kenal busung-busungkan dada,
tak kenal pula tunduk merunduk.

Pernah kita cari kebenaran,
bertanya pada burung yang melintas,
memohon pencerahan pada malam kelam,
tetapi satupun tak pernah mendapat jawaban,
karena kita hanyalah dedaunan.

Menagislah Bunda

Bunda,Bunda
aku memang tak melihat,
hari di mana kau dilahirkan,
tetapi aku yakin,
hari itu pastilah hari yang indah,
langit memerah jambu,
awan berdesakan hendak turun,
mentari mengerlingkan mata,
sorepun tak ingin beranjak menjadi malam,
karena gembiranya dunia,
menyambut kehadiran wanita mulia.

Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana aku dilahirkan,
hari yang kau senyumi,
hari yang kutangisi,
hari yang tak pernah kunanti,
karena ketakutanku yang amat sangat,
tentang sebuah balas budi,
dan janji-janji bakti,
yang tak mungkin kupenuhi,
untuk mewujudkan harapanmu.

Bunda,
aku masih bisa melihat senyummu,
kurang lebih,
hampir sama seperti senyummu dulu,
ketika kau melahirkanku,
tetapi ijinkan aku bertanya,
bukankah bulan tak selamanya purnama?
dan embun pagi akan diteguk binatang melata,
akupun telah tak telanjang lagi,
karena berbaju tebal keangkuhan,
maka seyogyanya,
menangislah bunda.