Tag Archives: cinta

Biarlah

Biarlah aku menyimpang,
dan menikmati kelainan asa,
karena lelah menjadi bintang,
di antara kilau cahaya berlimpah ruah,
menyilaukan.

Biarlah kuhambur-hamburkan tangisan,
bersama debu yang terinjak-injak,
karena kekalahan adalah keindahan,
dan ribuan mata yang mengejek,
adalah kesejukan.

Biarlah aku memohon-mohon,
untuk menjadi sahabat rerumputan,
yang selalu dipeluk embun di pagi hari,
dan tariannya saat menyambut mentari,
adalah kedamaian.

Biarlah,
tanpa syarat aku pasrah menyerah,
karena yang tercipta dari tanah,
kelak pasti akan kembali,
menjadi tanah.

Iklan

Kejora

Kejora,
ketika sinarmu membiru,
hanyutlah aku dalam rindu,
kala cahayamu memerah,
redamlah aku dari amarah.

Karena kau cantik,
bidadari pun iri hati,
lantaran selalu kupandang,
tak kuijinkan mata ini berkedip,
dengan alasan takut kehilangan.

Wahai penghias langit malam,
hiasi hatiku dengan sinarmu,
sampai lubuk-lubuk tak terjamah,
dan relung-relung tak tersentuh,
biar jiwaku seputih parasmu.

Kejora,
tertutup awan gelap,
tak pernah mampu menghijab,
terselubung awan putih,
tak jua kudengar suara rintih.

Seroja

Perlukah aku meminta maaf pada sang malam,
karena acap kali kuusir dia dari hadapanku,
agar segera kulihat jendela pagi yang indah,
agar segera kujumpai sapa sambutnya,
dan kutatap lagi matanya yang seperti bintang.

Dahulu kala pernah kurasakan rasa seperti ini,
entah kapan dan di mana aku mengalaminya,
kini kau ingatkan aku cara membuka hati,
bagai lelap tertidur dan terbuai dalamĀ  mimpi,
kau membawaku terbang dengan sayap putihmu.

Wahai dara,
andai aku pujangga pastilah aku telah memuja,
mengibaratkanmu bagai bunga seroja,
merayumu dengan untaian puisi dan prosa,
tapi kata-kata yang kurangkai selalu tanpa makna.

Jika saat ini ingin kuusir malam sekali lagi,
semata-mata bukan karena aku membencinya,
tapi semua kulakukan untukmu,
lantaran tiba-tiba kurasakan rindu,
padamu.

Seribu Malam Yang Lalu

Seribu malam yang lalu,
di atas kakiku yang telanjang bulat,
aku berjalan meniti untaian benang rindu,
yang terbentang di antara hampa bayangmu.

Letih ini berjanji setia jadi saksi,
dan menemani ketika muram durja menerpa,
bagai sirip ikan yang menari di air dangkal,
aku menggelepar dalam bejana penantian.

Di hamparan hati yang tak pernah terbagi,
kusematkan sebuah lencana atas namamu,
dan atas nama rasa yang tak mampu bicara,
kucoba sembunyikan seulas senyum palsu.

Seribu malam yang lalu,
apalah bedanya dengan malam ini,
sebilah rindu di dada tak jua melentur,
semakin tajam kala dingin malam menghujam.

Selamat Malam, Pagi.

Pagi yang membias di pedalaman hati,
menerangiku untuk menelusuri jejakmu,
di antara selaksa puing reruntuhan rasa,
kucoba menyusun piramida kenangan.

Pagi yang pernah mengantarkan kita,
meniti jalan indah di tengah taman bunga,
meyaksikan kuncup-kuncup bermekaran,
menebarkan wangi di seluruh maya pada.

Pagi yang kini menaungi kita,
tak lagi bisa kita nikmati bersama,
tapi dia tetap menjadi saksi abadi,
tentang perjalanan dua anak manusia.

Pagi yang telah beganti senja temaram,
menyisakan kehangatan tak tergantikan,
dan esok pasti kan kujelang sinarnya lagi,
kini kuucap selamat malam pada sang pagi.

Aku Tak Ada Lagi

Gelap,
walau kucoba menatap,
bayangmu sulit kutangkap,
entah di mana hatimu hinggap.

Aku sakit,
terkapar tak mampu bangkit,
sejak kau pergi ditelan langit,
meninggalkan perih yang menggigit.

Aku tak ada lagi,
karena kau anggap telah mati,
terkubur di dasar bumi,
tanpa sedihmu yang mengiringi,

Andai kini kau melihatku,
tak kan terbendung air matamu,
menyaksikanku hancur bagai debu,
tersayat tajamnya ujung sembilu.

Ijinkan Aku Mengenang

Ijinkan aku mengenang,
untuk setiap jengkal yang pernah kita lalui,
untuk setiap detik yang pernah kita lewatkan,
untuk setiap kata yang pernah kita ucap,
untuk sebuah rasa yang pernah kita ungkap.

Ijinkan aku mengenang,
pada kisah panjang yang melelahkan,
pada bayangmu yang selalu menemani,
pada senyum indah yang pernah kau beri,
pada seutas asa yang pernah kita cipta.

Ijinkan aku mengenang,
bagi keindahan yang pernah kita reguk,
bagi kedamaian yang pernah kita bentuk,
bagi nyayian rindu yang selalu mengalun,
bagi dunia yang pernah kita warnai.

Kendati kini kau telah pergi,
tapi sejatinya kau masih tetap di sini,
terikat pada tali jerat dalam hati,
dan akan terus begitu,
selalu dan selamanya.