Category Archives: Puisi Tertunda

Puisi Tertunda

Sudah masuk waktu maghrib,
benarkah mentari telah menyelam di laut barat,
ditelan Hiu bertaring putih,
tega sekali ikan besar itu,
tak memberiku kesempatan,
berlama-lama merangkai kata,
untuk dia yang kusayang.
Lalu siapa yang harus kupilih,
untuk menjadi sasaran empuk kemarahanku.
Ah, aku tahu,
pasti ada yang memutar jam dindingku lebih cepat,
atau mataku berubah menjadi mata gelap,
tapi di masjid mulai menggema azan.

Pesan singkatmu itu,
memaksaku menyelesaikan puisi ini.
Oh, ternyata,
aku ini belum mandi,
tapi ibuku sudah memanggil-manggil,
Tuhanku juga memanggilku lembut,
melelehlah air mataku.
Demi semua yang kusayang,
Tuhanku,
ibuku,
dan kau,
terpaksa aku menangis,
karena puisi ini harus tertunda.