Cerita Bunda

Bunda,
tahukah kau apa yang kutunggu?
katakanlah,
akulah tokoh dalam dongengmu,
ksatria yang kau puji,
bersenjatakan nurani,
yang menepati janjinya pada bumi.

Mengenai perahu yang tak kunjung menepi,
pantaskah untuk dinanti?
biarkan dia menjemput nasibnya,
serupa dengan retaknya tanah kering,
serta merta akan menutup kembali,
oleh deru hujan,
sahabatnya sang petir.

Bunda,
Malin Kundang telah menjadi batu,
akankah usai ceritamu?
Lalu bagaimana dengan harapanku,
untuk membangun istana berdinding salju,
yang menyejukkan hati semua manusia,
seperti di negeri dalam dongengmu.

25 responses to “Cerita Bunda

  1. salam kenal,,semoga pengelanaan menjadikan benar seorang satria pinilih

  2. nice poem…
    salam kenal…

  3. semoga harapanmu segera bersalju….
    agar dingin dinding justru jadi penghangat dongeng..

    nice mas Gurit

  4. Mengenai perahu yang tak kunjung menepi,
    Dulu perahu itu prh berlabuh nak gurit,
    krn tidak terlempar tali yang mengikatnya,
    akhirnya dia berlayar kembali & berlabuh dipelabuhan yang melemparkan tali utk mengikatnya .. krn prh singgah, pelabuhan pertama tdk prh dilupakanya …. xi xi xi xi

  5. .bagus puisi’a? Jandi inget yg d kampung

  6. Ngak nyindir to mas….. hehhehehhehe
    salam bravooo masbrour

  7. mana ni puisi terbaru’a? ,

  8. aku dadi kangen karo simbokku Rit, haduh biyung…

  9. kunjungan pertama nieh sob… salam kenal ya… puisinya bagus bagus.

  10. Ping-balik: Puisi Untuk IBU « aulianurul

  11. aq kangen km bunda. Bunda q jauh d mata.

  12. Ping-balik: B. indonesia | elyaaws

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s