Seroja

Perlukah aku meminta maaf pada sang malam,
karena acap kali kuusir dia dari hadapanku,
agar segera kulihat jendela pagi yang indah,
agar segera kujumpai sapa sambutnya,
dan kutatap lagi matanya yang seperti bintang.

Dahulu kala pernah kurasakan rasa seperti ini,
entah kapan dan di mana aku mengalaminya,
kini kau ingatkan aku cara membuka hati,
bagai lelap tertidur dan terbuai dalam  mimpi,
kau membawaku terbang dengan sayap putihmu.

Wahai dara,
andai aku pujangga pastilah aku telah memuja,
mengibaratkanmu bagai bunga seroja,
merayumu dengan untaian puisi dan prosa,
tapi kata-kata yang kurangkai selalu tanpa makna.

Jika saat ini ingin kuusir malam sekali lagi,
semata-mata bukan karena aku membencinya,
tapi semua kulakukan untukmu,
lantaran tiba-tiba kurasakan rindu,
padamu.

16 responses to “Seroja

  1. Waddooh.. masih bisa rindu juja yaa..?

  2. wah…gambar bunganya cantik… pasti secantik yg dipuja🙂

  3. 😦
    bersyukur masi bisa “rindu”
    ia ga’ mas?

  4. akhirnya…bisa juga berkunjung
    ke alam puisi surga….takjub !

    buat seroja yang indah selalu merindu
    daripada jadi pujangga mending jadi kumbangnya…😀

    slam knal
    blognoerhikmat

  5. tes.. tes…

  6. Hmmm…

  7. tak bls luweh dowo…. hhhmmmm……..🙂

  8. Podo nak ngono Kurasakan rindu .. xi xi xi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s