Aku Pernah Menjadi Bintang di Langit

Aku pernah menjadi bintang di langit,
yang berkedip di keluasan gurun cahaya,
mencoba menarik sepenggal perhatian,
tapi hanya kau pandang dari sudut matamu,
dan ketika semilir angin terkembang sayapnya,
sejuk senyummu pun terurai menjadi badai,
yang meruntuhkan kedipan bintang itu,
terjatuhlah aku mengerang dalam kedukaan.

Aku pernah menjadi batu karang,
yang tak pernah goyah mempertahankan rasa,
sedikit bergeming bukanlah sifat yang kumaklumi,
tapi di matamu seakan aku tak pernah berdiri,
seperti batang pepaya yang telah lelah berbuah,
terhuyung tanpa kasihmu yang menyangga,
dan rapuhlah aku dalam kesendirian ini.

Aku sering menjadi bukan diriku,
tak jarang harus melupakan segudang ingatan,
bersolek menutup ribuan belang di wajahku,
agar aku menjadi seperti yang kau inginkan,
agar aku menjadi dewa yang menaungi hidupmu,
walau harus kuabaikan arti sebuah jati diri,
yang kuwarisi sejak sebelum kau dilahirkan.

14 responses to “Aku Pernah Menjadi Bintang di Langit

  1. 😦 sedihna……😦

  2. plgnya naek apa mas… ?

  3. di kantor ngantug malah baca puisi ini …. artine apa mas ???😀

  4. udah pensiun yak jadi bintang nya….???

  5. ketulusan hati seorang lelaki sejati
    gitu ya mas?

  6. berkorban untuk sapa ya mas😀

  7. yo to ngalamun, mbaraki tibo, piye jare dijahit, mudah2an lekas sembuh Rit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s