Asal Aku Senang

          Pagi ini mau berangkat kerja cuaca mendung disertai rinai gerimis.  Seperti biasanya, dalam keadaan seperti itu pasti di pikiran langsung muncul kata-kata “Alangkah enaknya kalau tidak usah berangkat kerja tapi tiduran saja di rumah”. Tapi segera dibantah lagi oleh pikiran yang lain “Tugasmu di kantor hari ini kan banyak?”. Langsung pikiran yang pertama meyerah, tidak berani usul untuk diam di rumah lagi.

 

        Di tengah dialog pikiran itu tiba-tiba tetangga sebelah yang bernama Anto,  datang mendekati saya di teras rumah.

             “Kok belum berangkat Mas?” Tanyanya.

            “Iya, ini masih nunggu hujan” Jawab saya agak terkejut tersadar dari lamunan.

            “Lho, bukannya hujan sudah datang dari tadi, kok masih ditunggu?”  Tanya dia lagi sambil senyum-senyum.

            “Nunggu hujan reda maksudku”  Sahutku menjelaskan.

            Beberapa menit kami terlibat dalam perbincangan ringan disertai  canda. Tetapi  tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang aneh terdengar di telingaku.

            “Mas, kayak gini tiba-tiba ada pesawat terbang jatuh di kampung kita pasti asik ya Mas?

            “Heh, gila kamu ini” Jawab saya agak terkejut dan tidak mengerti jalan pikiran dia.

            “Kan enak mas, kampung kita jadi ramai, banyak orang datang melihat. Wartawan media cetak dan elektronik juga pasti berdatangan meliput. Kampung kita kan jadi terkenal dan ada kemungkinan  saya bisa masuk tivi”. Kata dia dengan tertawa-tertawa.

            Sampai di sini saya bisa mengerti jalan pikiran orang kebanyakan, mungkin termasuk saya sendiri.  Bahwa kebanyakan orang akan mendahulukan kesenangannya tanpa memikirkan kesusahan atau kesulitan orang lain.

            Sebelum saya mencoba mengajak bicara Si Anto masalah kemanusiaan, saya mencoba menyinggung dari kepentingan dia sendiri. Saya pun secara iseng bertanya memancing dia

            “Kalau ternyata pesawatnya jatuh tepat di rumah kamu gimana? Rumah kamu  jadi rusak parah, bahkan bisa-bisa kamu atau keluarga kamu jadi korban. Apa seperti itu masih bisa kamu bilang asik?”

            Rupanya dia juga tidak mau mengalah, buru-buru dia menimpali.

            “Lho…Jatuhnya ya sekitar setengah kiloan dari rumahku dong Mas”

            “Ya sudahlah, kamu ini kebanyakan nonton berita bencana di tivi sih.”  Sambungku sambil bergegas menuju motor kesayangan untuk berangkat ke kantor karena waktu terus bejalan.

            Obrolan ringan dan tidak bermutu dengan tetangga sebelah itu rupanya terbawa sampai ke perjalanan menuju kantor. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah Si Anto tidak berfikir apabila benar-benar terjadi ada kecelakaan pesawat yang menelan banyak korban penumpangnya. Bagaimana menderitanya keluarga korban. Bagaimana bingungnya petugas penyelamat dan masih banyak lagi hal-hal memilukan yang bakal terjadi.

            Apakah mayoritas orang punya pikiran seperti itu? Yang demi kesenangan dan kondisi nyaman harus melupakan penderitaan orang lain. Kadang-kadang kita dihadapkan pada fakta, ketika kita menyaksikan berita di televisi, pejabat-pejabat atau penguasaha besar  bisa melakukan segala cara agar keamanan dan kenyamanannya tidak terusik. Karena terancam hukuman pidana, mereka akan melakukan apa saja. Praktek suap, intimidasi, jual beli perkara, sudah bukan merupakan hal yang asing di negeri kita ini. Para pelaku praktek-praktek buruk tersebut nampaknya tidak memikirkan dampak buruk dari apa yang telah dilakukannya. Mereka tidak memikirkan ada banyak pihak yang menjadi korban dan menderita atas perilaku buruk itu.

            Setiap orang memang memiliki naluri untuk menyelamatkan dirinya dari pihak manapun agar selamat atau setidaknya ketenangannya tidak terusik, tetapi  tidak selayaknya kalau upaya menyelamatkan diri tersebut harus menimbulkan penderitaan bagi pihak lain. Manusia dilahirkan dengan dilengkapi hati nurani. Hati nurani akan selalu jujur dan obyektif dalam menilai semua tindakan kita. Apabila mulut kita berkata bohong, maka nuranilah yang pertama kali akan berkata “Ucapanmu itu bohong”.

            Marilah kita renungkan bersama, apakah kita ini memiliki kebiasaan yang tidak baik?, yaitu demi kesenangan, ketenangan, keamanan, kenyamanan atau keselamatan diri sendiri,  kita tidak mempedulikan pihak lain?.

 

One response to “Asal Aku Senang

  1. swktu kecil q jg berfikiran yg sama am tetangga mas gurit itu tp bedanya q dulu mengira pesawat itu membawa uang yg berkarung2 jd doanya moga2 ada pesawat lewat menjatuhkan uang sekarung gt:”>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s