WHAT AM I DOING?

            Kita semua mungkin pernah melakukan sesuatu tetapi kita tidak sadar dengan apa yang kita lakukan tersebut. Sadar dalam artian gerakan fisik benar-benar kita pikirkan secara detil. Misalnya pada saat kita minum air di gelas. Biasanya pikiran kita tidak mengikuti gerakan mulai dari menyentuh gelas, mengangakat, menempelkan di bibir, hingga mereguk air. Hal ini karena sejak kecil memang kita sudah mahir atau tahu persis bagaimana cara untuk meminum air di gelas. Tanpa berpikirpun pekerjaan sekecil itu pasti akan lancar-lancar saja dan berhasil.

            Kita tidak memikirkan proses meminum air di gelas juga bukanlah sebuah masalah. Tetapi yang kurang baik adalah ketika kita mengerjakan seluruh proses untuk meminum air, ternyata pikiran kita justru bekerja sendiri dengan memikirkan hal-hal lain. Keadaan seperti ini hampir terjadi di setiap pekerjaan yang kita lakukan. Bahkan terjadi juga pada waktu kita sedang menjalankan ibadah sholat, yang notabene harus dilakukan secara khusuk dan tuma’ninah. Seringkali gerakan-gerakan pada sholat tidak kita sadari sepenuhnya. Contohnya, tahu-tahu kita sudah dalam posisi rukuk. Pikiran tidak mengikuti perpindahan dari posisi berdiri ke posisi rukuk. Yang lebih tidak baik lagi adalah ketika kita sering lupa tentang rakaat sholat. Misalnya, sebetulnya kita sudah berada pada rakaat ke tiga, tetapi kita ragu apakah benar berada pada rakaat ke tiga atau sudah berada pada rakaat ke empat.
            Hal-hal yang saya sebutkan di atas terjadi karena antara gerakan fisik dan pikiran tidak sejalan dengan baik. Pikiran sangatlah bebas, bisa loncat-loncat ke sana ke mari. Detik ini bisa di New York, tetapi beberapa detik kemudian bisa berada di Semarang. Detik ini bisa berada di tahun 2012 dan beberapa detik kemudian bisa berada di seratus tahun sebelum masehi. Bahkan menurut para ahli, otak kita rata-rata berpikir kurang lebih sebanyak 60.000 hal dalam sehari. Jumlah yang fantastis bukan?
            Kreatif dan lincahnya otak memang sangat diperlukan oleh manusia, karena kalau pikiran kita statis, tidak mungkin ada kemajuan peradaban manusia dari masa ke masa. Tetapi yang tidak baik adalah ketika kita telah terbiasa mempunyai pikiran yang liar. Kita tidak mampu mengendalikan loncatan-loncatan pikiran kita. Kita membiarkan begitu saja pikiran kita melanglang buana ke mana-mana. Penemuan-penemuan besar sepanjang sejarah awalnya memang merupakan khayalan manusia, lebih bisa dikatakan sebagai loncatan maju pikiran manusia, tetapi yang dimaksud dengan pikiran liar di sini bukan pikiran yang bersifat menuju kemajuan tetapi pikiran yang lebih banyak dampak negatifnya.
            Tidaklah mudah untuk mengendalikan pikiran kita, apalagi kita adalah manusia biasa yang tiap hari harus dihadapkan pada masalah-masalah yang mau tidak mau harus kita hadapi. Urusan pekerjaan, rumah tangga, pertemanan, atau masalah-masalah lainnya. Karena kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa membutuhkan pihak lainnya. Selain faktor tersebut, kita telah terdidik mulai dari kecil tentang apa-apa yang bersifat logika. Pelajaran pada pendidikan formal atau non formal juga ikut menyumbang terbentuknya pola pikir yang berdasarkan logika semata. Sehingga pikiran liar dimiliki oleh hampir semua penduduk planet bumi ini. Lalu bagaimanakah yang seharusnya kita lakukan?
            Sebaiknya kita berusaha untuk fokus kepada apa yang kita lakukan saat ini, detik ini. Arahkan pikiran pada obyek yang ada di depan kita. Ikuti saja detik demi detik. Jangan memikirkan masa lalu walau itu sejam, semenit ataupun sedetik yang telah kita lewati. Jangan pula memikirkan masa depan. Sedetik, semenit, sejam, ataupun setahun yang akan datang adalah masa depan. Saya pernah membaca sebuah artikel, bahwa kondisi yang saya maksud seperti itu disebut “Sadar Kini-Sini.” Jadi saat ini dan di sini.Kalau pada saat ini saya sedang mengetik di depan komputer, ya itulah yang harus saya sadari. Bahwa saya pada saat ini sedang duduk di kursi, mengetik huruf demi huruf. Saya tidak sedang berada di Afrika atau di tempat lain selain di ruangan ini. Usahakan setiap detik pikiran kita bertanya, “What am i doing?” atau Sedang Apa saya Sekarang?. Secara otomatis pikiran kita akan terpelihara untuk sadar kini-sini.
            Untuk apa kita harus lakukan seperti itu?. Salah satu fungsinya adalah untuk membuat hati menjadi tenang, karena biasanya kesedihan, murung, penyesalan dan lain sebagainya adalah akibat dari masa malu, sedangkan kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, pesimisme dan lain sebagainya adalah merupakan akibat kita memikirkan masa yang akan datang. Misalnya kita sedang memikirkan target dari perusahaan yang terasa begitu berat, maka perasaan-perasaan yang saya sebutkan tadi akan datang begitu saja. Biarlah masa depan terjadi, yang penting pada saat ini kita telah berbuat dengan sebaik-baiknya. Soal hasil yang akan kita capai kita serahkan saja pada Tuhan.
            Kondisi bahagia akan kita dapatkan apabila hati kita merasa tenang, tak ada sesuatupun yang menjadi ancaman bagi kita, tak ada yang mampu mengusik hati kita, apapun itu masalahnya. Mungkin ini hanyalah salah satu tips untuk menuju ketenangan hati. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

2 responses to “WHAT AM I DOING?

  1. q bc2 lg tp ga mudeng sepenuhnya mas gurit

  2. benar juga,tapi butuh konsentrasi level atas itu mas,bagaiaman dgn Seseorang yg mengalami trauma akut😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s