Jaga Bungaku (Versi Video)

Jaga Bungaku, puisi yang saya tulis pada tahun 2010 di blog ini, coba saya buat dalam versi video.

untitled26

Andai Diamku Bisa Bicara (Versi Video)

Salam jumpa, saya coba lagi membuat versi video dari puisi lama saya yang berjudul  Andai Diamku Bisa Bicara

silakan klik di sini atau di gambar: untitled9

 

Puisi Tak Sampai (Versi Video)

Salam jumpa…

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Kesibukan kantor telah menyita sebagian besar waktu saya. Tetapi masih sempat iseng-iseng bikin video dari puisi berjudul Puisi Tak Sampai yang pernah saya tulis di blog ini.

Kalau sempat silakan diintip: untitled6

 

Kita Adalah Dedaunan

dedaunan
Kita adalah dedaunan itu,
pernah menghijau menebar rindu,
pernah kering dan berguguran,
lalu melayang bersama debu,
ditiup angin.

Kita adalah dedaunan itu,
ranting-ranting kita adalah perayaan,
dahan-dahan kita adalah keberanian,
matahari dan hujan adalah pandangan hidup,
lantas mengapa kita anggap angin sebagai keluh kesah?

Kita adalah dedaunan itu,
bersatu tanpa ikatan tali temali,
menari tanpa alunan kecapi,
tetapi kita adalah pengisi kehampaan,
itulah alasan kita punya arti bagi bumi.

Kita adalah dedaunan itu,
tak pernah berharap taman menjadi sunyi,
karena kita bukanlah bala tentara sang raja,
tak kenal busung-busungkan dada,
tak kenal pula tunduk merunduk.

Pernah kita cari kebenaran,
bertanya pada burung yang melintas,
memohon pencerahan pada malam kelam,
tetapi satupun tak pernah mendapat jawaban,
karena kita hanyalah dedaunan.

Jangan Bangunkan Aku

Jangan bangunkan aku,Image
kumohon,
mimpi ini terlalu indah untuk kutinggalkan.
Alam nyata terlalu menyesakkan untuk kupandangi
 
Jangan bangunkan aku,
dewa-dewi tengah menebarkan salam padaku,
sinar matanya seteduh mata ibuku,
sapa hangatnya selalu memanusiakan aku.
 
Jika bisa kupilih,
aku ingin terlahir kembali di sini,
bermain dengan bocah-bocah telanjang kaki,
rebah di rumput berselimut jerami.
 
Ini dunia buta dengan kasta,
tanpa raja, tanpa pula perdana menteri,
burung-burung kecilpun siap mengadili,
pada siapapun yang ingkar nurani.
 
Jangan bangunkan aku,
walau matahari telah meninggi,
karena aku selalu takut,
menjadi penghuni peradaban mati.

2013 in review

Tahun 2013 minim sekali saya menulis di Blog ini. Kesibukan pekerjaan benar-benar telah membuat saya “cuek” pada Blog Puisi Surga. Tetapi WordPress masih setia mengirimkan laporan tentang Blog ini. Dalam benak saya, WordPress mungkin akan membekukan Blog ini karena saya; sebagai admin; tak banyak menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan di Puisi Surga. Tetapi WordPress rupanya berbaik hati, masih mengijinkan tulisan-tulisan lama saya terpampang di sini.

Walau tak banyak menulis, tetapi berdasarkan laporan/annual report dari WordPress, selama tahun 2013 Puisi Surga diklik orang sekitar 160 ribu kali. Wah, lumayan banyak ya? Dan, inilah laporan selengkapnya dari WordPress:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog. Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 160,000 times in 2013. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 7 days for that many people to see it.

Klik di sini untuk melanjutkan.

Menagislah Bunda

Bunda,Bunda
aku memang tak melihat,
hari di mana kau dilahirkan,
tetapi aku yakin,
hari itu pastilah hari yang indah,
langit memerah jambu,
awan berdesakan hendak turun,
mentari mengerlingkan mata,
sorepun tak ingin beranjak menjadi malam,
karena gembiranya dunia,
menyambut kehadiran wanita mulia.

Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana aku dilahirkan,
hari yang kau senyumi,
hari yang kutangisi,
hari yang tak pernah kunanti,
karena ketakutanku yang amat sangat,
tentang sebuah balas budi,
dan janji-janji bakti,
yang tak mungkin kupenuhi,
untuk mewujudkan harapanmu.

Bunda,
aku masih bisa melihat senyummu,
kurang lebih,
hampir sama seperti senyummu dulu,
ketika kau melahirkanku,
tetapi ijinkan aku bertanya,
bukankah bulan tak selamanya purnama?
dan embun pagi akan diteguk binatang melata,
akupun telah tak telanjang lagi,
karena berbaju tebal keangkuhan,
maka seyogyanya,
menangislah bunda.