Menagislah Bunda

Bunda,Bunda
aku memang tak melihat,
hari di mana kau dilahirkan,
tetapi aku yakin,
hari itu pastilah hari yang indah,
langit memerah jambu,
awan berdesakan hendak turun,
mentari mengerlingkan mata,
sorepun tak ingin beranjak menjadi malam,
karena gembiranya dunia,
menyambut kehadiran wanita mulia.

Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana aku dilahirkan,
hari yang kau senyumi,
hari yang kutangisi,
hari yang tak pernah kunanti,
karena ketakutanku yang amat sangat,
tentang sebuah balas budi,
dan janji-janji bakti,
yang tak mungkin kupenuhi,
untuk mewujudkan harapanmu.

Bunda,
aku masih bisa melihat senyummu,
kurang lebih,
hampir sama seperti senyummu dulu,
ketika kau melahirkanku,
tetapi ijinkan aku bertanya,
bukankah bulan tak selamanya purnama?
dan embun pagi akan diteguk binatang melata,
akupun telah tak telanjang lagi,
karena berbaju tebal keangkuhan,
maka seyogyanya,
menangislah bunda.

Ingin Kusajakkan Senyummu

Ibu,
ingin kusajakkan senyummu,
seraya kupilih dan kupilah ribuan kata,
tetapi tak jua bisa kurangkai kalimat,
yang paling senonoh untukmu.

Biarlah puisi untukmu tetap kupingit di hati,
jika berkenan,
baca saja rangkaian prosa pada raut wajahku,
karena aku tak pernah memakai cadar dihadapanmu,
tangisku adalah tangisku dan tawaku adalah tawaku.

Aku mengenal kasihmu dengan sendiriku,
tanpa ada yang mengajari,
tanpa pula referensi,
dan karenamu juga aku bisa mengenal rindu,
yang kuyakini hingga riwayatku ditelan bumi.

Ibu,
aku tahu kita mencintai kesahajaan,
kita membenci kemunafikan,
maka untuk apa kututup rapat aurat tabiatku,
jika hanya untuk menyenangkanmu.

Aku Ingin Menciummu Setiap Hari

Ibu,
boleh kan aku merayu?
aku ingin berbaring di pangkuanmu,
mengadu tentang hari-hari lelahku,
tentang keras dunia,
yang tak seteduh kasihmu,
dan ingin kupertanyakan,
mengapa di luar sana,
tak pernah kutemukan keikhlasan,
seperti keikhlasanmu padaku.

Ibu,
Belailah rambutku,
pijatlah lenganku,
usaplah dahiku,
aku ingin membasahi pangkuanmu,
dengan air mataku,
dengan keringat dinginku,
dan ninabobokan aku,
bacakan kisah-kisah tentang indahnya surga,
hingga aku terlelap.

Ibu,
Ibuku sayang,
acap kali kulihat,
orang-orang hanya sempat mencium ibunya,
sekali saja,
saat jasad ibunya hendak dikebumikan,
sungguh,
aku tak ingin seperti itu,
maka ijinkan aku,
untuk menciummu setiap hari.

Cerita Bunda

Bunda,
tahukah kau apa yang kutunggu?
katakanlah,
akulah tokoh dalam dongengmu,
ksatria yang kau puji,
bersenjatakan nurani,
yang menepati janjinya pada bumi.

Mengenai perahu yang tak kunjung menepi,
pantaskah untuk dinanti?
biarkan dia menjemput nasibnya,
serupa dengan retaknya tanah kering,
serta merta akan menutup kembali,
oleh deru hujan,
sahabatnya sang petir.

Bunda,
Malin Kundang telah menjadi batu,
akankah usai ceritamu?
Lalu bagaimana dengan harapanku,
untuk membangun istana berdinding salju,
yang menyejukkan hati semua manusia,
seperti di negeri dalam dongengmu.

Asal Ibu Senang

Khusuk hening dalam tahajjudmu,
tertengadah dan merunduk dalam keihlasan,
menghiasi malammu yang sepi merajuk,
tiada beban yang melingkar di pundakmu,
semua kau luruhkan untukku,
anakmu.

Ibu, walau di matamu,
selamanya aku adalah ranting kecil,
yang kau khawatirkan patah ditiup angin,
dan kau cemaskan akan rapuh dan lemahku,
tapi sesungguhnya aku ingin merindang,
melindungimu dari sedih nestapa.

Andai aku dipanggilNya lebih dulu,
aku ingin selalu datang ke bumi setiap malam,
bergayut di sayap malaikat pembawa rahmat,
yang menjinjing seribu salam indah dari surga,
untukmu,
ketika air matamu menetes di atas sajadah.

Aku ingin berlebihan di hadapanmu,
untuk menutup kekuranganku,
walau harus kupaksakan,
tapi tak apalah,
asal Ibu senang,
karena kesenangamu adalah nyawaku.

Kasur Kapuk

Mak, aku pulang,
seperti biasa,
tolong siapkan air hangat di tungku,
buat aku mandi malam ini.

Kulihat kasur kapuk itu mulai lapuk,
dua warnanya berubah menjadi tiga,
oleh bocoran atap yang tak rapat.
Biarlah esok aku yang menambalnya.

Mak, harusnya kau tak lagi bekerja,
menguras tenaga untuk bisa belanja,
biarlah kupikul kayu bakar itu,
agar punggungmu tak lagi membiru.

Mak, kalaulah aku menagis,
tangisku itu hanya untukmu,
kalaulah aku meratap,
jangan pernah kau menatap.

Mak, aku malu jadi anakmu.
setiap saat melihat dukamu,
tapi tak pernah kudengar rintihmu,
walau nestapa enggan beranjak darimu.

UNTUK IBU

 

Ibu, wajah berserimu itu sekarang kulihat tua.

Tubuh tegarmu itu sekarang mulai melemah.

Sinar mata yang tajam saat memarahiku dulu,

kini tak pernah lagi kulihat.

 

Ibu, Aku rindu marahmu

Cubit lenganku lagi sampai berwarna merah

Merahkan juga telingaku dengan kritik tajammu

Lakukan saja apapun yang kau mau padaku

Kau injak kepalakupun kan kuserahkan dengan tersenyum

 

Ibu, aku bukanlah siapa-siapa di depanmu.

Yang dulu tak pernah bisa ke mana-mana,

tanpa meringkuk di gendonganmu.

Sekarang masih seperti dulu, Bu.

Aku hanya seonggok daging kecil,

yang tak pernah bisa bernafas tanpa kasihmu

 

Ibu, sudah berapa kali aku melukaimu?

Pasti sudah hilang kan catatanmu?

Sedangkan aku masih memiliki catatan-catatan bodohku,

yang merasa telah kau kecewakan.

 

Ibu, Dapat kuhitung dengan jari tanganku,

berapa kali aku membuatmu tersenyum,

berapa lembar kain yang pernah kubeli untukmu

Tak banyak kan?

Tapi kenapa kau tak pernah meminta?

 

Ibu, aku takut kau tinggalkan aku,

karna aku memang tak pernah siap kau tinggalkan.

Aku sangat membutuhkan teguranmu

Aku ingin melihatmu setiap pagi