Pahlawan

(Puisiku untuk Hari Pahlawan, dengan memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi para pahlawan kemanusiaan pada bencana Merapi, Mentawai, Wasior, dsb)
Courtesy of Kompas.com

Bukan berteriak jihad,
tapi kemuliaan telah indah kau pahat,
meringankan beban sesama umat,
ketika bumi serasa bagai kiamat,
serentak kau menjadi sepakat,
bahwa semua mahkluk harus selamat.

Bukan mencari untung,
tapi nyawa rela kau sabung,
ketika jerit tangis menusuk jantung,
tak cukup kau duduk termenung,
atau hanya berdiri mematung,
kau tunjukkan langkahmu yang agung.

Bukan hanya berucap simpati,
mengobral janji menjual teori,
kau berdiri gagah berani,
memenuhi panggilan nurani,
menghibur ibu pertiwi,
yang tengah menangis bersedih hati.

Bukan memburu gelar pahlawan,
cukup disebut sebagai relawan,
menjujung tinggi nilai kemanusiaan,
menyelamatkan alur kehidupan,
tanpa mengharap imbalan dan pujian,
kau berjuang di jalan Tuhan.

Tanah Ini

Tanah ini,
pernah dipertahankan dengan ujung belati,
oleh orang-orang pemberani,
yang tak mau bangsanya diperlakukan keji..

Tanah ini,
menjadi saksi abadi,
tentang cita-cita suci,
dari para pemilik hati nurani.

Tanah ini,
dijaga Bung Karno hingga ke bui,
dicinta Bung Hatta sampi mati,
ditukar nyawa Walter Monginsidi.

Tanah ini,
jangan hargai sebatas investasi,
jangan pernah dibagi-bagi,
kepada orang serakah penjual negeri.

Tanah ini,
tempatnya Gus Dur mengaji,
tempatnya Rendra berpuisi,
mereka tak rela tanah ini dikotori.

Tanah ini,
bukan milik kaum berdasi,
bukan ajang berebut uang korupsi,
bukan pula arena judi.

Tanah ini,
saksi bisu reformasi mati suri,
hingga saatnya nanti,
keadilan bukan hanya sebuah ilusi.