Sudah Terbukti

Wajah tampanmu, paras cantikmu, badan kekarmu, indah kulitmu, kilau rambutmu, usia mudamu, apakah telah memberi nilai lebih bagimu? Kau akan menjawab itu adalah kelebihanmu, padahal kau tahu itu bukan prestasi yang kau usahakan sendiri. Sebelum lahir tak ada yang bisa memesan bentuk badanmu. Kau terima begitu saja apa adanya. Untuk apa semua itu dibangga-banggakan jika hanya jadi penghalang cahayaNya?

Setiap saat kau bercermin, seolah-olah takut hilang kecantikanmu, ketampananmu. Padahal dari kemarin masih tetap seperti itu. Dan siang malam kau sering disibukkan hanya untuk merawat badan.

Ingatlah, semua itu akan rusak jika telah sampai waktunya.

Kau keluarkan biaya berjuta-juta hanya takut ada satu jerawat yang hinggap, sedangkan sedikit membantu yang kekurangan, kau enggan melakukannya.

Kau begitu ketakutan kala garis keriput telah tergambar samar-samar. Krim anti aging benarkah bisa menunda ketuaan kulitmu?

Kala yang lain berbusana tertutup rapat, kau bilang itu menghilangkan pamor. Benarkah?

Apakah keindahan fisikmu untuk dipamerkan? Atau untuk diperlombakan?

Sudahlah kawan, sudah banyak terbukti, banyak contoh, keindahan fisik telah menghalangi cahayaNya menembus hati, bahkan menjerumuskan pada kehancuran dunia dan akhirat. Lihat para pesohor rupawan yang tengah dilanda masalah karena tak mampu mensyukuri kerupawanannya. Benar, ini sudah terbukti.

Baginda Yusuf AS, Bunda Aisyah ”Sang Humaira”, patutlah kau contoh kemuliannya, walau dianugerahi keindahan fisik jauh melebihi yang kau punya.

Sumpah Murah

Ketika sumpah kau anggap begitu murah,
walau tak seorangpun memberi perintah,
sehari semalam kau ucap melimpah ruah,
karena jujur dan tidak bukanlah masalah,

Sebenarnya siapa yang ingin kau yakinkan,
sedang sejatinya kau sedang ditertawakan,
karena sumpahmu bukan wakil kebenaran
hanyalah penghias bibir penuh gurauan.

Jika kebenaran seiring dengan tutur kata,
tanpa memaksapun kau akan dipercaya,
dan berkacalah pada manusia bijaksana,
yang jujur bersumpah setelah dia diminta

Catatan Kaki

(Untuk Seorang Teman. Ini puisi yang kau pesan sudah kubuat. Maaf baru sempat, soalnya lagi sibuk banget. Oya, Catatan Kaki yang kumaksud di sini bukan footnote loh… :) )

Catatan-catatan panjang,
atas langkah-langkah kakimu,
yang tegak dan yang terhuyung,
yang lurus dan yang melengkung,
yang bebas dan yang terpasung,
pernahkah coba kau baca lagi?

Bukankah jalan lurus masih terbentang,
halus mulus dan menenteramkan jiwamu,
tapi mengapa kau pilih yang menyimpang,
kau lalui dengan secercah senyum,
walau terjal dan berbatu amat tajam,
dan perih di telapak seakan tak kau rasakan.

Coba tengok ke belakang sejenak,
jejak-jejak itu masih jelas terlukis,
tak mampu terhapus hujan yang menderu,
hingga musimpun telah berganti kemarau,
kaupun masih enggan mengingat suatu hari kelak,
saat dibukanya semua catatan atas langkah kakimu.

Butuh

Tuhan,
Andai hari ini Kau sediakan sepuluh ampunan,
aku ingin kesepuluhnya untukku.
Andai esok hari Kau sediakan seratus ampunan,
aku juga ingin keseratusnya untukku.
Andai lusa kau sediakan seribu ampunan,
aku tetap ingin kesemuanya untukku.

Bukannya aku egois,
bukannya aku serakah,
tak peduli dengan yang lain,
atau mau menang sendiri,
tapi semata-mata karena alasan,
aku butuh,
butuh sekali.

Di Bawah Tangan

Ketika tanganmu berada di atas,
lihatlah raut wajah-wajah kecil,
berterima kasih penuh keluguan,
mendoakanmu tulus dan ikhlas,
agar kau senantiasa berbahagia,
agar Tuhanmu menambah nikmat,
yang selama ini telah kau dapat.

Ketika tanganmu berada di atas,
tangan-tangan di bawah tanganmu,
menggenggam erat pemberianmu,
bukan untuk berpesta pora,
bukan untuk memanjakan raga,
sekedar untuk menyambung nyawa,
agar esok masih bisa bernafas.

Bukankah kau tahu,
dari apa-apa yang telah kau miliki,
ada hak mereka yang harus dibagi,
tidak untuk kau simpan sendiri,
kau tumpuk setinggi gunung,
hingga kau menjadi lupa,
ada tangan-tangan di bawah tanganmu.

Sementara Itu

Hari ini segera berganti hari esok,
bulan ini akan berganti bulan depan,
tiada yang bisa tinggal diam di sini,
untuk kau ikat erat dan kau miliki.

Dulu kau adalah seorang bayi,
lalu tumbuh menjadi anak kecil,
muda remaja dan beranjak dewasa,
terus bergulir berbeda generasi.

Seperti bangunan yang amat kukuh,
menjulang tinggi begitu angkuh,
tapi pastilah akan menjadi rapuh,
dan tinggal menunggu saatnya runtuh.

Adakah keadaan bisa bertahan lama,
ketika semua harus maju berubah,
singgah sejenak lalu beranjak pergi,
dan segalanya akan menjadi sejarah,

Dunia hanya rangkaian kesementaraan,
untuk apa terpatri pada kilau indahnya,
melupakan jalan menuju keabadian,
yang jauh lebih baik dan lebih kekal.

Katamu hidup hanyalah sementara,
tapi kau tak mau menyadari artinya,
bahwa sementara itu,
sungguh tidaklah lama.