Aroma Hujan

Aroma hujan itu datang lagi,
memekarkan jiwaku,
asal tahu saja ,
aku begitu merindukannya,
karena dialah peradabanku,
yang mengijinkan batinku tertawa.

Sekawanan burung yang berbaris indah,
tak jua hendak mengepungku,
datanglah sahabat-sahabatku,
hitamkan aku dengan warnamu,
hilangkan silsilah yang membelengguku,
dan ajari aku melarikan diri.

Pada sebuah titik di mana aku meletih,
kukagumi daun-daun yang jatuh,
karena dia amatlah jantan,
menantang kepongahan badai,
lalu berteriak dengan lantang,
“Telah kuselaraskan kehidupan” .

Demikianlah adanya,
aroma hujan itu akhirnya pergi juga,
menyisakan kedamaian,
tetapi bukanlah berakhirnya usahaku,
untuk menjemputnya di ujung cakrawala,
pada saatnya nanti.

11 Responses to Aroma Hujan

  1. aroma hujan…
    jemput kerinduan-kerinduan

  2. Alhamdullillah…
    aku sakit tapi gak parah2 amat…
    itu artinya Tuhan masih sayang sama aku
    menyuruhku istirahat diatas tempat tidur
    bosan, pegal, dan lemas tubuhku tak mampu kulawan
    mas Gurit sendiri gimana kabarnya?
    makasih sudah berkunjung ke blogku
    makasih juga komentarnya..

  3. aroma hujan, hmmm….
    bagus sekali puisi ini
    semoga pada saatnya nanti
    dapat menjemputnya ya…

  4. aroma hujan, aroma setiap tetes kedamaian yang dinanti :)

  5. hallloo mas Gurit apa kabarnya ?, wah puisimu dalam aroma hujan ini mengingatkanku pada sebuah musim panas yang panjang tahun lalu, dimana aku merindu hujan dan aromanya.

    Salam hangat

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s