Aroma hujan itu datang lagi,
memekarkan jiwaku,
asal tahu saja ,
aku begitu merindukannya,
karena dialah peradabanku,
yang mengijinkan batinku tertawa.
Sekawanan burung yang berbaris indah,
tak jua hendak mengepungku,
datanglah sahabat-sahabatku,
hitamkan aku dengan warnamu,
hilangkan silsilah yang membelengguku,
dan ajari aku melarikan diri.
Pada sebuah titik di mana aku meletih,
kukagumi daun-daun yang jatuh,
karena dia amatlah jantan,
menantang kepongahan badai,
lalu berteriak dengan lantang,
“Telah kuselaraskan kehidupan” .
Demikianlah adanya,
aroma hujan itu akhirnya pergi juga,
menyisakan kedamaian,
tetapi bukanlah berakhirnya usahaku,
untuk menjemputnya di ujung cakrawala,
pada saatnya nanti.


aroma hujan…
jemput kerinduan-kerinduan
hey mba astrid pa kbr? lama ga ada kontek….
mudah2an sehat2 saja …..
Alhamdullillah…
aku sakit tapi gak parah2 amat…
itu artinya Tuhan masih sayang sama aku
menyuruhku istirahat diatas tempat tidur
bosan, pegal, dan lemas tubuhku tak mampu kulawan
mas Gurit sendiri gimana kabarnya?
makasih sudah berkunjung ke blogku
makasih juga komentarnya..
iya mba astrid…. dengan sakit, kita bisa mensyukuri nikmatnya sehat..
alhamdulillah mba… aku sehat2 saja….
terima kasih ya…..
aroma hujan, hmmm….
bagus sekali puisi ini
semoga pada saatnya nanti
dapat menjemputnya ya…
iya bang azzet….. semoga kita semua bisa menjemput damai….
terima kasih sudah mampir ke sini…
aroma hujan, aroma setiap tetes kedamaian yang dinanti
damai..damai..damai… impian klasik setiap manusia…
imagine all the people….
terima kasih ida….
hallloo mas Gurit apa kabarnya ?, wah puisimu dalam aroma hujan ini mengingatkanku pada sebuah musim panas yang panjang tahun lalu, dimana aku merindu hujan dan aromanya.
Salam hangat
terima kasih mba Rini…..
aroma hujan akan selalu dinanti para perindu kedamaian..
salam….
yaa bukankah hujan memang anugerah yang indah mas Gurit ? Salamku