Aroma Hujan

Aroma hujan itu datang lagi,
memekarkan jiwaku,
asal tahu saja ,
aku begitu merindukannya,
karena dialah peradabanku,
yang mengijinkan batinku tertawa.

Sekawanan burung yang berbaris indah,
tak jua hendak mengepungku,
datanglah sahabat-sahabatku,
hitamkan aku dengan warnamu,
hilangkan silsilah yang membelengguku,
dan ajari aku melarikan diri.

Pada sebuah titik di mana aku meletih,
kukagumi daun-daun yang jatuh,
karena dia amatlah jantan,
menantang kepongahan badai,
lalu berteriak dengan lantang,
“Telah kuselaraskan kehidupan” .

Demikianlah adanya,
aroma hujan itu akhirnya pergi juga,
menyisakan kedamaian,
tetapi bukanlah berakhirnya usahaku,
untuk menjemputnya di ujung cakrawala,
pada saatnya nanti.

2011 in review

Dapat kiriman dari WordPress tentang catatan tahun 2011 dari blog ini. Lumayan sih………. hehehe…. Silakan kalau mau baca:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 100,000 times in 2011. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 4 days for that many people to see it.

Catatan Lengkap Klik Sini.

Biarlah

Biarlah aku menyimpang,
dan menikmati kelainan asa,
karena lelah menjadi bintang,
di antara kilau cahaya berlimpah ruah,
menyilaukan.

Biarlah kuhambur-hamburkan tangisan,
bersama debu yang terinjak-injak,
karena kekalahan adalah keindahan,
dan ribuan mata yang mengejek,
adalah kesejukan.

Biarlah aku memohon-mohon,
untuk menjadi sahabat rerumputan,
yang selalu dipeluk embun di pagi hari,
dan tariannya saat menyambut mentari,
adalah kedamaian.

Biarlah,
tanpa syarat aku pasrah menyerah,
karena yang tercipta dari tanah,
kelak pasti akan kembali,
menjadi tanah.

Adapun

Adapun,
aksara-aksara yang terdampar di dada,
belum jua berbaris membentuk kata,
maka jangan pernah kau tanya,
sampai kapan aku mengungkapkannya.

Adapun,
ribuan rindu yang kau harapkan,
kini melebur menjadi satu,
setara dengan kesunyian malam,
diam seribu bahasa.

Adapun,
dua ujung di lorong hati,
telah tersumbat oleh kebekuan,
hingga asaku tak mampu mengalir,
keras membatu dalam batin.

Adapun,
tentang janji waktu itu,
kini telah berganti,
bersama tenggelamnya mentari,
walau tiada maksud mengingkari.

Aku Ingin Berhenti


Karena alam tertawa lebar,
aku tertawa juga,
entah kenapa hari ini mendung tiada kunjung,
dan sepoi angin datang tanpa permisi,
menyibak rerumputan yang kering ujungnya,
kira-kira,
apa yang terakhir akan hadir?

Sebelum terjabar lebih luas,
ingin kubaca dulu tulisan di langit,
dengan mata telanjang,
karena kaca mataku telah retak,
terinjak tumit kesombongan diri,
tanpa peduli tajamnya firasat,
hingga sering kali melanggar cinta.

Akankah terjawab tanyaku,
sedang percakapan di langit tiada kudengar,
terus terang,
aku khawatir dengan anganku,
yang terlampau sering berkelana,
oleh karena itu,
aku ingin berhenti.

Cerita Bunda

Bunda,
tahukah kau apa yang kutunggu?
katakanlah,
akulah tokoh dalam dongengmu,
ksatria yang kau puji,
bersenjatakan nurani,
yang menepati janjinya pada bumi.

Mengenai perahu yang tak kunjung menepi,
pantaskah untuk dinanti?
biarkan dia menjemput nasibnya,
serupa dengan retaknya tanah kering,
serta merta akan menutup kembali,
oleh deru hujan,
sahabatnya sang petir.

Bunda,
Malin Kundang telah menjadi batu,
akankah usai ceritamu?
Lalu bagaimana dengan harapanku,
untuk membangun istana berdinding salju,
yang menyejukkan hati semua manusia,
seperti di negeri dalam dongengmu.

Pencuri

Pencuri
dulu bersenang hati,
menguras negeri,
menikmati upeti.

Kini,
malu sekali,
ditertawakan sesama pencuri,
dihina penduduk bumi.

Tetapi,
ada yang terlupa,
ada yang lebih pahit,
dihina pula penduduk langit.

Kejora

Kejora,
ketika sinarmu membiru,
hanyutlah aku dalam rindu,
kala cahayamu memerah,
redamlah aku dari amarah.

Karena kau cantik,
bidadari pun iri hati,
lantaran selalu kupandang,
tak kuijinkan mata ini berkedip,
dengan alasan takut kehilangan.

Wahai penghias langit malam,
hiasi hatiku dengan sinarmu,
sampai lubuk-lubuk tak terjamah,
dan relung-relung tak tersentuh,
biar jiwaku seputih parasmu.

Kejora,
tertutup awan gelap,
tak pernah mampu menghijab,
terselubung awan putih,
tak jua kudengar suara rintih.

Seroja

Perlukah aku meminta maaf pada sang malam,
karena acap kali kuusir dia dari hadapanku,
agar segera kulihat jendela pagi yang indah,
agar segera kujumpai sapa sambutnya,
dan kutatap lagi matanya yang seperti bintang.

Dahulu kala pernah kurasakan rasa seperti ini,
entah kapan dan di mana aku mengalaminya,
kini kau ingatkan aku cara membuka hati,
bagai lelap tertidur dan terbuai dalam  mimpi,
kau membawaku terbang dengan sayap putihmu.

Wahai dara,
andai aku pujangga pastilah aku telah memuja,
mengibaratkanmu bagai bunga seroja,
merayumu dengan untaian puisi dan prosa,
tapi kata-kata yang kurangkai selalu tanpa makna.

Jika saat ini ingin kuusir malam sekali lagi,
semata-mata bukan karena aku membencinya,
tapi semua kulakukan untukmu,
lantaran tiba-tiba kurasakan rindu,
padamu.

Pagi Yang Berbagi (Majang Award)

Berbagi adalah bahasa nurani yang murni,
ketika tanpa ada kontaminasi dari segala ambisi,
putih bersih bagai mekarnya bunga melati.

Berbagi membuat milik kita jadi terkurangi,
itulah pikiran orang-orang yang belum membuka hati,
karena telah dijejali beribu teori ekonomi.

Mentari selalu tersenyum di pagi hari,
karena telah memberikan cahaya indahnya bagi seisi bumi,
tanpa berharap untuk dibeli.

Hari libur yang sepi, pagi-pagi belum mandi, menghadapi secangkir kopi, sebatang rokok menemani, coba-coba buka lapi, eee.. dapet award dari sobat blogger David Pramana Putra . Namanya Stylish Blogger Award …… Ok deh, dipajang:

Makasih ya Sob……karena telah berbagi. Apapun itu, sangatlah berarti.