Kita Adalah Dedaunan

dedaunan
Kita adalah dedaunan itu,
pernah menghijau menebar rindu,
pernah kering dan berguguran,
lalu melayang bersama debu,
ditiup angin.

Kita adalah dedaunan itu,
ranting-ranting kita adalah perayaan,
dahan-dahan kita adalah keberanian,
matahari dan hujan adalah pandangan hidup,
lantas mengapa kita anggap angin sebagai keluh kesah?

Kita adalah dedaunan itu,
bersatu tanpa ikatan tali temali,
menari tanpa alunan kecapi,
tetapi kita adalah pengisi kehampaan,
itulah alasan kita punya arti bagi bumi.

Kita adalah dedaunan itu,
tak pernah berharap taman menjadi sunyi,
karena kita bukanlah bala tentara sang raja,
tak kenal busung-busungkan dada,
tak kenal pula tunduk merunduk.

Pernah kita cari kebenaran,
bertanya pada burung yang melintas,
memohon pencerahan pada malam kelam,
tetapi satupun tak pernah mendapat jawaban,
karena kita hanyalah dedaunan.

Jangan Bangunkan Aku

Jangan bangunkan aku,Image
kumohon,
mimpi ini terlalu indah untuk kutinggalkan.
Alam nyata terlalu menyesakkan untuk kupandangi
 
Jangan bangunkan aku,
dewa-dewi tengah menebarkan salam padaku,
sinar matanya seteduh mata ibuku,
sapa hangatnya selalu memanusiakan aku.
 
Jika bisa kupilih,
aku ingin terlahir kembali di sini,
bermain dengan bocah-bocah telanjang kaki,
rebah di rumput berselimut jerami.
 
Ini dunia buta dengan kasta,
tanpa raja, tanpa pula perdana menteri,
burung-burung kecilpun siap mengadili,
pada siapapun yang ingkar nurani.
 
Jangan bangunkan aku,
walau matahari telah meninggi,
karena aku selalu takut,
menjadi penghuni peradaban mati.

2013 in review

Tahun 2013 minim sekali saya menulis di Blog ini. Kesibukan pekerjaan benar-benar telah membuat saya “cuek” pada Blog Puisi Surga. Tetapi WordPress masih setia mengirimkan laporan tentang Blog ini. Dalam benak saya, WordPress mungkin akan membekukan Blog ini karena saya; sebagai admin; tak banyak menuangkan isi kepala dalam bentuk tulisan di Puisi Surga. Tetapi WordPress rupanya berbaik hati, masih mengijinkan tulisan-tulisan lama saya terpampang di sini.

Walau tak banyak menulis, tetapi berdasarkan laporan/annual report dari WordPress, selama tahun 2013 Puisi Surga diklik orang sekitar 160 ribu kali. Wah, lumayan banyak ya? Dan, inilah laporan selengkapnya dari WordPress:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog. Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 160,000 times in 2013. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 7 days for that many people to see it.

Klik di sini untuk melanjutkan.

Menagislah Bunda

Bunda,Bunda
aku memang tak melihat,
hari di mana kau dilahirkan,
tetapi aku yakin,
hari itu pastilah hari yang indah,
langit memerah jambu,
awan berdesakan hendak turun,
mentari mengerlingkan mata,
sorepun tak ingin beranjak menjadi malam,
karena gembiranya dunia,
menyambut kehadiran wanita mulia.

Bunda,
aku memang tak melihat,
hari di mana aku dilahirkan,
hari yang kau senyumi,
hari yang kutangisi,
hari yang tak pernah kunanti,
karena ketakutanku yang amat sangat,
tentang sebuah balas budi,
dan janji-janji bakti,
yang tak mungkin kupenuhi,
untuk mewujudkan harapanmu.

Bunda,
aku masih bisa melihat senyummu,
kurang lebih,
hampir sama seperti senyummu dulu,
ketika kau melahirkanku,
tetapi ijinkan aku bertanya,
bukankah bulan tak selamanya purnama?
dan embun pagi akan diteguk binatang melata,
akupun telah tak telanjang lagi,
karena berbaju tebal keangkuhan,
maka seyogyanya,
menangislah bunda.

2012 in review

Inilah hasil laporan WordPress mengenai Blog Pusi Surga selama tahun 2012..

 

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

19,000 people fit into the new Barclays Center to see Jay-Z perform. This blog was viewed about 150,000 times in 2012. If it were a concert at the Barclays Center, it would take about 8 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Akulah Raja Alengka

Aku memaknaimu bunga yang terjaga,
oleh ksatria perkasa mempesona,
Sang Rama Wijaya.
Tapi tercelakah aku memimpikanmu?
bukan untuk menyentuh paras bidadarimu,
bukan pula memelukmu di malam syahdu.
Aku tak ingin menghitamkan cinta putihmu,
aku hanya menunggu sesaat khilafmu.

Tahukah kau bunga?
telah kupelangikan rambut ikalmu,
hingga berhelai-helai warnanya,
menyeruak dalam-dalam di sukmaku,
menghujam rimbun di hati bagai serumpun bambu.
Karena kau adalah permata berbias sinar surga,
siapa yang tak tergoda memilikinya,
walau harus kucuri bertaruh nyawa.

Jika sudi melihatku,
jangan lihat dengan mata lentikmu,
karena hanya akan kau dapati sang durjana,
raksasa penebar prahara,
tapi lihatlah aku dengan rasamu,
dan akan kau temukan Rahwana dengan cintanya,
Karena bagaimanapun juga,
akulah raja Alengka,
yang hendak membahagiakanmu dalam istana kasihku.

Ingin Kusajakkan Senyummu

Ibu,
ingin kusajakkan senyummu,
seraya kupilih dan kupilah ribuan kata,
tetapi tak jua bisa kurangkai kalimat,
yang paling senonoh untukmu.

Biarlah puisi untukmu tetap kupingit di hati,
jika berkenan,
baca saja rangkaian prosa pada raut wajahku,
karena aku tak pernah memakai cadar dihadapanmu,
tangisku adalah tangisku dan tawaku adalah tawaku.

Aku mengenal kasihmu dengan sendiriku,
tanpa ada yang mengajari,
tanpa pula referensi,
dan karenamu juga aku bisa mengenal rindu,
yang kuyakini hingga riwayatku ditelan bumi.

Ibu,
aku tahu kita mencintai kesahajaan,
kita membenci kemunafikan,
maka untuk apa kututup rapat aurat tabiatku,
jika hanya untuk menyenangkanmu.